Senin, 13 April 2020

BALAA' YANG MEMPENGARUHI SEJARAH MOLINO-NIPA

Ketika orang-orang Nipa membicarakan sejarah desanya yang merupakan kesinambungan dari sejarah masyarakat Molino, selalu saja terngiang dalam ingatan mereka suatu kata balaa'. Kata ini sulit dipisahkan dari sejarah desa Nipa, karena memang peristiwa inilah yang telah mempengaruhi sejarah masyarakat Molino sampai dengan kemunculan desa Nipa seperti yang ada saat ini. Goresan Balaa' masih begitu membekas dalam sejarah dan ingatan orang-orang Nipa, apalagi bagi orang-orang tua yang memang keturunan asli dari Molino.

Balaa' merupakan kata dalam bahasa Balantak yang menggambarkan kesialan, kecelakaan besar, tula atau kutukan yang menimpa seseorang atau sekumpulan orang dalam waktu tertentu atau mungkin seumur hidup, dimana penyebabnya adalah hal diluar kemampuan manusia. setidaknya seperti itulah yang difahami masyarakat molino secara umum pada waktu itu. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata ini menjadi bala, yang berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki dua arti; yang pertama adalah pasukan, sementara arti yang kedua adalah malapetaka.

Sekitar akhir tahun 1918 atau awal tahun 1919, orang-orang di Molino mengalami yang mereka sebut balaa'. Menurut tuturan turun temurun dari orang-orang tua, bahwa saat-saat terjadinya keadaan balaa' ini sungguh menyedihkan bila dikenang. Mereka menuturkan bahwa awalnya satu atau dua orang saja yang meninggal. Hari-hari berikutnya semakin banyak yang meninggal dengan alasan yang tidak dimengerti. Padahal orang-orang hanya kelihatan pilek, bersin-bersin, batuk-batuk, dan  demam sebagaimana flu biasa (meskipun ada yang diare dan sakit kepala), tetapi kok bisa sampai meninggal. Padahal penyakit seperti ini adalah penyakit yang biasa diderita dan akan sembuh sendiri dengan pengobatan tradisional. Tapi yang mengherankan kali ini adalah hanya dalam waktu singkat setelah gejala tersebut mereka justru langsung meninggal. Hanya dalam hitungan hari peristiwa ini sudah banyak memakan korban. Belum reda tangisan pilu tetangga sebelah, sudah terdengar teriakan menyayat hati dari tetangga lainnya, padahal di rumah sendiripun ada yang sudah meninggal dan ada pula yang masih sakit. Peristiwa menyedihkan ini terjadi begitu cepat sehingga seluruh desa berkabung besar-besaran.

Dalam keluarga-keluarga terdapat satu, dua, bahkan lebih mayat yang membuat seluruh warga desa semakin jatuh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada yang kehilangan bayi, ada yang kehilangan ayah, ada yang kehilangan ibu, ada yang kehilangan isteri dan anak sekaligus, ada yang kehilangan suami dan anak sekaligus, ada yang kehilangan ayah dan ibu sekaligus, kakek, nenek, dan seterusnya dan seterusnya... Yaa... ini balaa'. Warga desa molino mengatakan inilah balaa'.

Dalam cerita turun-temurun digambarkan bahwa saat itu mereka benar-benar berkabung, mereka benar-benar panik, dan bingung tidak tau lagi harus berbuat apa untuk bisa mengurus pemakaman jenazah anggota keluarganya, atau untuk menyelamatkan yang sedang sakit agar bisa sembuh. Suasana desa di pinggiran hutan itu hari ke hari semakin mencekam dan hanya terdengar isak tangis dimana-mana sepanjang siang dan malam.

Dengan segala keterbatasan pada waktu itu, dengan berbagai kebingungan yang melanda benak mereka saat itu, mereka yang tersisa atau yang masih sehat ataupun yang sakit tapi masih kuat, memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu. Hal ini harus dilakukan karena diyakini bahwa satu-satunya cara terlepas dari balaa' yang sedang melanda kampung tersebut adalah keluar dari kampung itu. Selanjutnya, mereka benar-benar mengosongkan kampung Molino. Mereka pergi meninggalkan rumah masing-masing begitu saja. Umumnya rumah masyarakat waktu itu bermodel rumah panggung, jadi mayat-mayat yang tidak sempat lagi dimakamkan hanya dibiarkan di dalam rumah, kemudian tangga untuk akses kedalam rumah itu dilepas dengan harapan agar tidak ada binatang pemakan bangkai yang masuk atau naik ke rumah dan memakan jenazah yang ditinggal didalamnya. Begitulah mereka dengan terpaksa pergi sambil membawa kisah pilu masing-masing. Diantara begitu banyak kisah pilu dari masing-masing keluarga, pernah dituturkan satu cerita dimana orang-orang mendengar isak tangis bayi dari sebuah rumah sesaat sebelum mereka akan meninggalkan kampung itu. Setelah orang masuk ke dalam rumah tersebut, ditemukan seorang bayi laki-laki sedang menyusu pada mayat ibunya. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Kemudian bayi kuat itu diambil oleh kerabat, selanjutnya bayi itu benar-benar selamat dari tragedi balaa', dan kemudian bisa melanjutkan keturunannya. Kisah bayi ini cuma salah satu diantara sekian banyak kisah sedih akibat balaa' yang menimpa Kampung Baru Molino.

Kisah selanjutnya dari masyarakat yang menjadi penyintas dari tragedi balaa' di Molino adalah sebagian besar mereka berkumpul dan membuat pemukiman baru di pesisir selatan, yang sekarang bernama Desa Nipa. (Untuk Melihat Sejarah Desa Nipa, Klik di Sini).

Tahun-tahun berlalu, satu demi satu para saksi sejarah meninggal dunia, yang tersisa hanyala cerita dan sisa-sisa bangunan di Molino yang menjadi bukti bisu bahwa orang tua mereka pernah bermukim di sana. Semua kisah itu suatu saat hanya akan menjadi seperti legenda, padahal kisah itu adalah kisah yang benar-benar nyata. Tetapi satu hal yang masih dirasakan oleh generasi selanjutnya adalah kebingungan atas pertanyaan; apa sebenarnya yang telah terjadi? Orang-orang tua hanyalah berpesan bahwa balaa' dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, jika memang saatnya Tuhan menegur manusia yang semakin serakah secara kolektif, atau memang alam sudah mau membalas tindak tanduk manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengelolanya. Yaa.. pesan yang sangat bijak.


Simak Lagu Orang Nipa Yang Biasa Dinyanyikan Untuk Mengenang Kampung Molino
Versi Piano Klik disini
Lirik Klik disini


Sebagai warga milenial yang penasaran, Thinker-JQX telah melakukan banyak wawancara dengan para orang-orang tua di Desa Nipa sejak tahun 1990-an untuk memastikan keakuratan informasi tahun kejadian, dan disimpulkan waktu tepatnya kejadian balaa' ini adalah sekitar bulan Desember 1918. Setelah membaca banyak buku-buku sejarah untuk membandingkan berbagai informasi yang relevan, maka Thinker_JQX menyimpulkan bahwa PENYEBAB BALAA' DI KAMPUNG BARU MOLINO ADALAH VIRUS H1N1. Orang Belanda di Indonesia menyebutnya Penyakit Aneh, Penyakit Rahasia, dll. Orang Eropa menyebutnya Flu Spanyol, sementara orang Spanyol sendiri menyebutnya Flu Francis.

Menurut pemerintah Hindia Belanda, gejala Flu Spanyol layaknya flu biasa. Penderita merasakan pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal. Dalam beberapa hari, otot terasa sakit dan disusul demam tinggi. Gejala umum lainnya, mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga ke paru-paru. Dalam banyak kasus, gejala itu berkembang menjadi pneumonia. Bila penderita sudah sampai pada tahapan ini, kecil kemungkinan bisa bertahan.

Selasa, 23 Juli 2019

DAFTAR KEPALA DESA NIPA


Berikut adalah daftar nama orang yang pernah memimpin masyarakat Molino-Nipa, berdasarkan data yang penulis dapatkan dari pemerintah desa.

Dalam Status Kepala Suku/Kepala Bense:
1.         Papalan memimpin dari tahun 1880 s/d 1920 ( di Molino )
2.         Molonsing Pada tahun 1920

Dalam  status Kepala Kampung / Kepala Desa:
3.         Pisang Beroa memimpin dari tahun 1920 s/d 1931
4.         Jonatan Sudara memimpin dari tahun 1931 s/d 1936
5.         Krustian Tintilo memipin dari tahun 1936 s/d 1948
6.         Albert Lintoe memimpin dari tahun 1948 s/d 1952
7.         Lodewyk Saparo memimpin dari tahun 1952 s/d 1957
8.         Danil Nandi memimpin dari tahun 1957 s/d 1961
9.         Albert Lintoe memimpin dari tahun 1961 s/d 1970
10.     Bernadus Sudara memimpin dari tahun 1970 s/d 1974
11.     Karel Saparo memimpin dari tahun 1974 s/d 1980
12.     Bernadus Sudara memimpin dari tahun 1980 s/d 1983
13.     Frans Tanus memimpin dari tahun 1983 s/d 1987
14.     Fredrik Kamati memimpin dari tahun 1987 s/d 1992
15.     Marten Manube memimpin dari tahun 1992 s/d 1993
16.     Yoktan Lanipi memimpin dari tahun 1993 ( Care Taker / enam bulan )
17.     Y.M. Sanako memimpin dari tahun 1994 s/d 2004
18.     Ishak Tintilo memimpin dari tahun 2005 s/d 2016 
19.     Yosdi Noldi Kamati, SE memimpin sejak 2016 sampai sekarang (Saat artikel ini dibuat).



Sumber: Pemerintah Desa Nipa

Kamis, 18 Juli 2019

SEJARAH DESA NIPA




Saat ini kawasan Molino adalah bagian wilayah pedalaman dari desa Nipa. Sebagian besar warga desa Nipa yang ada saat ini merupakan keturunan dari penduduk yang dulunya bermukim di wilayah Molino.

Catatan sejarah yang sangat minim mengenai Molino membuat kami tergerak untuk berusaha mengumpulkan dan mengabadikan informasi yang sangat sedikit itu dalam tulisan seperti ini supaya 'yang sedikit' itu tidak segera hilang. Mungkin tulisan ini jauh dari struktur bahasa yang baik apalagi dalam hal metodologi, tapi hal itu tidak menjadi soal bagi penulis, karena sebagai bagian dari keturunan penduduk Molino, yang jadi tujuan utama kami adalah catatan atas informasi yang sedikit itu terselamatkan. Kami yakin bahwa catatan yang sangat minim ini bisa berarti bagi sebagian masyarakat Molino-Nipa yang peduli.



A.           Asal Usul Masyarakat

Tidak jelas dalam tradisi turun temurun mengenai asal usul kelompok masyarakat yang mendiami wilayah Molino dan sekitarnya. Mengenai sudah berapa lama mereka mendiami wilayah tersebut juga belum ada penelitian yang komprehensif, sehingga catatan yang 'berani' kami tuliskan disini mengenai tahun hanyalah rentang sekitar 1800 Masehi hingga sekarang. Akan halnya sudah sejak kapan, dari mana, dan bagaimana keadaan sebelum tahun itu tidaklah diketahui. Bahkan catatan atau informasi sekitar tahun 1800 pun sangat minim.

Menurut tradisi turun-temurun, yang diketahui hanyalah bahwa sekitar tahun 1800, terdapat masyarakat suku Balantak yang mendiami wilayah Molino dan sekitarnya. Mereka tersebar di tempat-tempat yang ada sumber airnya, karena memang terdapat banyak mata air di wilayah tersebut. Jadi awalnya mereka memang tidak menyatu di Molino, tetapi tersebar di masing-masing wilayah / tanah yang saling diakui secara adat sebagai kepemilikan masing-masing klan. Klan-klan ini tersebar dengan kepemilikan wilayah yang punya namanya masing-masing dan jelas batas-batasnya. Batas-batas itu bisa berupa sungai-sungai ataupun perbukitan. Satu Klan biasanya terdiri dari tiga sampai enam rumah, yang dikepalai seorang Tonggol. Klan-klan ini mereka sebut bense'. Belanda yang masuk pedalaman ini sekitar awal abad ke 20 lah  yang menyatukan masyarakat ini di satu wilayah yang kemudian mereka sebut Kampung Baru Molino.

B.            Mata Pencaharian dan Makanan Pokok

Mata pencaharian utama masyarakat pada waktu itu adalah berkebun. Ketersediaan makanan yang bisa di ramu dari alam masih tergolong cukup terutama untuk sayur-sayuran. Mereka juga kadang turun ke pantai untuk mencari ikan, atau juga berburu hewan di hutan. Hewan yang menjadi buruan untuk bahan makanan adalah Bau' (babi hutan), Balulang (Anoa), dan Balangoan (babi rusa) yang mulai langka.

Disamping menanam padi sebagai makanan pokok, masyarakat Molino juga menanam kacang-kacangan, jagung, pisang dan ubi-ubian serta sagu. Masyarakat hanya menanam tanaman pangan untuk konsumsi sendiri dan juga bisa dijual/ditukarkan dengan bahan kebutuhan lainnya. Hal ini menjadi kebiasaan karena kehidupan yang sangat sederhana semacam itu tidak membutuhkan simpanan uang untuk keperluan hidup yang kompleks. Yang mereka butuhkan hanyalah cadangan makanan yang cukup ketika musim hujan. Mereka menyimpan bahan persediaan pangan (beras) mereka dibangunan yang disebut Alang.

Tradisi Barter ada dalam kehidupan sosial masyarakat Molino dan sekitarnya. Antar warga yang satu dengan warga lainnya (antar bense') biasa melakukan pertukaran jenis bahan makanan. Misalnya yang kelebihan sagu bisa ditukar dengan ubi-ubian dari orang lain (dari bense' lain) yang tentu kelebihan ubi-ubian. Mereka yang terlibat pertukaran itu tidak perlu saling bertemu atau mengenal. Mereka Cukup menggantungkan saja komoditi miliknya di tempat tertentu yg mudah dilihat orang atau tempat yang sudah lazim, dan beberapa waktu kemudian atau mungkin keesokan harinya sudah bisa diperiksa apakah sudah tertukar atau belum. Tidak banyak aturan dalam hal barter ini. Bahan yang digantung bisa ditukar dengan bahan apa saja, yang penting tentu tidak sama. Jadi yang berlaku disini adalah benar-benar kearifan.

Masyarakat mulai menanam kelapa dalam jumah besar atau mengolah sagu dalam jumlah yang besar untuk diperdagangkan dimungkinkan ketika akses keluar masuk mulai terasa aman oleh karena intervensi kolonialis. Hal ini kemungkinannya setelah pengetahuan masyarakat tentang dunia luar makin berkembang, dengan masuknya pengajar-pengajar atau penginjil zending, Yakni setelah babtisan pertama tahun 1913. 

Molino pada September 1919
Sumber Foto: W. Kaudern


C.            Sistem Pemerintahan dan Kepercayaan

Oleh karena di wilayah Lamala-Balantak saat itu tidak ada kerajaan yang jelas berkuasa sebagaimana di daerah-daerah lain, maka komunitas-komunitas penduduk yang tersebar di wilayah pedalaman Molino, Mantok dan sekitarnya tidak terorganisir secara jelas, dan tidak jelas pula yang mana otoritas pemerintahan yang menjadi panutan kelompok-kelompok masyarakat diwilayah ini sebelum masuknya kolonial. Sebelum tahun 1800-an apakah kawasan Molino adalah wilayah kekuasaan dari Kerajaan Banggai sejak awal? Ataukah bekas rakyat dari kerajaan Tompotika yang setelah runtuh kemudian dicaplok oleh kerajaan Banggai? Ataukah masuk klaim kerajaan Ternate namun rakyat Molino tidak sadar? Hal ini tidak jelas secara tradisi lisan, dan perlu penelitian lebih lanjut. Namun jika dicocokkan dengan lini masa sejarah pra Kabupaten Banggai khususnya di sekitar awal 1900-an, maka seharusnya wilayah ini sedang masuk dalam klaim Berajaan Banggai. Namun sebelumnya entah bagian dari Kerajaan Tompotika (Boalemo) atau Goa? ini yang menarik untuk dikaji. 

Peran kepala suku (tonggol) adalah sebagai pengatur segalanya; penyelesai masalah, pengatur, dan lain-lain sebagaimana pelindung, pengayom dan panutan masyarakat lokal. Sebagai pemimpin ritual keagamaan, pendetanya disebut bolian. Selain itu tidak banyak yang diketahui secara tradisi lisan mengenai kondisi masyarakat dan keadaan pemerintahannya sebelum tahun 1880. Yang pasti, berdasarkan cerita turun temurun, pada masa-masa tersebut masyarakat menganut sistim kepercayaan adat yang sangat kuat, yang memengaruhi segala aspek kehidupan tradisionalnya termasuk cara mereka mencari nafkah, yaitu bercocok tanam dan berburu.

Setelah masuknya pengaruh kolonialisme Belanda, dan berdasarkan pembagian wilayah dari pihak pemerintahan kolonialis tersebut, maka secara administrasi wilayah Lamala–Balantak termasuk dalam Distrik Suluteng. Berbeda dengan Pulau Peling dan Kepulauan Banggai yang masuk dalam wilayah Distrik Ternate. Pemerintah kolonial Belanda mulai menata sistem pemerintahan yang berjenjang. Dimana kepala-kepala suku memimpin masing-masing kelompok masyarakatnya yang dinamakan Bense’. Kumpulan beberapa bense’ atau kampung dikepalai oleh seorang yang lebih tinggi lagi. Sampai ada yang sisebut Kapitan, Sangaji, dan seterusnya.

Pengaruh Kolonialisme Belanda dalam hal penyebaran kepercayaan juga masuk sampai ke pedalaman-pedalaman Lamala. Hal ini dibuktikan dengan adanya Babtisan di Molino pada tanggal 21 Januari 1913 dan didirikannya bangunan Gereja di Molino. 

Meskipun sebagian besar masyarakat Molino dan sekitarnya setelah Babtisan tahun 1913 sudah memeluk agama Kristen, tapi pengaruh kepercayaan tradisionalnya masih melekat kuat sehingga tradisi asli dan kekristenan tercampur baur dalam kehidupan mereka.    



D.           Eksodus ke Pesisir

Pada tahun 1920, seorang bernama Molonsing memerintah sebagai kepala suku di wilayah tersebut, dan pada saat inilah masyarakat Molino bermigrasi secara spontan ke ke selatan, ke wilayah pantai, oleh karena keadaan genting yang saat itu disebut oleh masyarakat di Molino sebagai Balaa’.

Kata “Balaa’” diartikan sebagai suatu keadaan sial yang menimpa masyarakat. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, balaa’ artinya "bala", bisa juga “tula”. Keadaan sial dimaksud adalah karena pada masa itu terjadi rentetan kematian penduduk yang tiada hentinya. Sehari terjadi lebih dari satu kematian dan keadaan ini terjadi setiap hari, bahkan jumlah penduduk yang meninggal setiap harinya semakin bertambah. Masyarakat Molino dengan segala keterbatasannya ketika itu sama sekali tidak mengetahui penyebab masalah tersebut. Keadaan menyedihkan yang tidak diketahui penyebabnya inilah yang membuat masyarakat yang masih sehat merasa harus meninggalkan tempat kediaman mereka, dan mencari tempat bermukim yang baru. (Klik sini, untuk mengetahui selengkapnya tentang balaa di Molino).

Sebagian besar penduduk Molino bermigrasi ke satu wilayah pemukiman baru yang terletak di pesisir pantai. Pada saat itu wilayah pemukiman baru ini oleh mereka disebut ‘Nipa’ karena tempat tersebut banyak ditumbuhi pohon Nipah. Tetapi karena tempat yang baru ini rawan genangan air alias sering banjir dikala hujan akibat luapan air di rawah sekitarnya, maka tempat inipun jadi pemukiman sementara yang kemudian ditinggalkan juga. Mereka secara bertahap bergeser ke arah barat sebagaimana pemukiman yang ada saat ini, sehingga tempat yang dulunya merupakan wilayah pemukiman penduduk saat pertama kali pindah dari Molino, sekarang tidak lagi ditempati sebagai pemukiman, tetapi dijadikan area pemakaman yang biasanya disebut: Nipa Tua




Baca Juga: Daftar Lengkap Kepala Desa Nipa (Klik Sini)




Sumber :


Wawancara dengan Pelaku Sejarah, Tokoh Masyarakat / Tetua / Tokoh Hadat, dll