Ketika orang-orang Nipa membicarakan sejarah desanya yang merupakan kesinambungan dari sejarah masyarakat Molino, selalu saja terngiang dalam ingatan mereka suatu kata balaa'. Kata ini sulit dipisahkan dari sejarah desa Nipa, karena memang peristiwa inilah yang telah mempengaruhi sejarah masyarakat Molino sampai dengan kemunculan desa Nipa seperti yang ada saat ini. Goresan Balaa' masih begitu membekas dalam sejarah dan ingatan orang-orang Nipa, apalagi bagi orang-orang tua yang memang keturunan asli dari Molino.
Balaa' merupakan kata dalam bahasa Balantak yang menggambarkan kesialan, kecelakaan besar, tula atau kutukan yang menimpa seseorang atau sekumpulan orang dalam waktu tertentu atau mungkin seumur hidup, dimana penyebabnya adalah hal diluar kemampuan manusia. setidaknya seperti itulah yang difahami masyarakat molino secara umum pada waktu itu. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata ini menjadi bala, yang berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki dua arti; yang pertama adalah pasukan, sementara arti yang kedua adalah malapetaka.
Sekitar akhir tahun 1918 atau awal tahun 1919, orang-orang di Molino mengalami yang mereka sebut balaa'. Menurut tuturan turun temurun dari orang-orang tua, bahwa saat-saat terjadinya keadaan balaa' ini sungguh menyedihkan bila dikenang. Mereka menuturkan bahwa awalnya satu atau dua orang saja yang meninggal. Hari-hari berikutnya semakin banyak yang meninggal dengan alasan yang tidak dimengerti. Padahal orang-orang hanya kelihatan pilek, bersin-bersin, batuk-batuk, dan demam sebagaimana flu biasa (meskipun ada yang diare dan sakit kepala), tetapi kok bisa sampai meninggal. Padahal penyakit seperti ini adalah penyakit yang biasa diderita dan akan sembuh sendiri dengan pengobatan tradisional. Tapi yang mengherankan kali ini adalah hanya dalam waktu singkat setelah gejala tersebut mereka justru langsung meninggal. Hanya dalam hitungan hari peristiwa ini sudah banyak memakan korban. Belum reda tangisan pilu tetangga sebelah, sudah terdengar teriakan menyayat hati dari tetangga lainnya, padahal di rumah sendiripun ada yang sudah meninggal dan ada pula yang masih sakit. Peristiwa menyedihkan ini terjadi begitu cepat sehingga seluruh desa berkabung besar-besaran.
Dalam keluarga-keluarga terdapat satu, dua, bahkan lebih mayat yang membuat seluruh warga desa semakin jatuh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada yang kehilangan bayi, ada yang kehilangan ayah, ada yang kehilangan ibu, ada yang kehilangan isteri dan anak sekaligus, ada yang kehilangan suami dan anak sekaligus, ada yang kehilangan ayah dan ibu sekaligus, kakek, nenek, dan seterusnya dan seterusnya... Yaa... ini balaa'. Warga desa molino mengatakan inilah balaa'.
Dalam cerita turun-temurun digambarkan bahwa saat itu mereka benar-benar berkabung, mereka benar-benar panik, dan bingung tidak tau lagi harus berbuat apa untuk bisa mengurus pemakaman jenazah anggota keluarganya, atau untuk menyelamatkan yang sedang sakit agar bisa sembuh. Suasana desa di pinggiran hutan itu hari ke hari semakin mencekam dan hanya terdengar isak tangis dimana-mana sepanjang siang dan malam.
Dengan segala keterbatasan pada waktu itu, dengan berbagai kebingungan yang melanda benak mereka saat itu, mereka yang tersisa atau yang masih sehat ataupun yang sakit tapi masih kuat, memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu. Hal ini harus dilakukan karena diyakini bahwa satu-satunya cara terlepas dari balaa' yang sedang melanda kampung tersebut adalah keluar dari kampung itu. Selanjutnya, mereka benar-benar mengosongkan kampung Molino. Mereka pergi meninggalkan rumah masing-masing begitu saja. Umumnya rumah masyarakat waktu itu bermodel rumah panggung, jadi mayat-mayat yang tidak sempat lagi dimakamkan hanya dibiarkan di dalam rumah, kemudian tangga untuk akses kedalam rumah itu dilepas dengan harapan agar tidak ada binatang pemakan bangkai yang masuk atau naik ke rumah dan memakan jenazah yang ditinggal didalamnya. Begitulah mereka dengan terpaksa pergi sambil membawa kisah pilu masing-masing. Diantara begitu banyak kisah pilu dari masing-masing keluarga, pernah dituturkan satu cerita dimana orang-orang mendengar isak tangis bayi dari sebuah rumah sesaat sebelum mereka akan meninggalkan kampung itu. Setelah orang masuk ke dalam rumah tersebut, ditemukan seorang bayi laki-laki sedang menyusu pada mayat ibunya. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Kemudian bayi kuat itu diambil oleh kerabat, selanjutnya bayi itu benar-benar selamat dari tragedi balaa', dan kemudian bisa melanjutkan keturunannya. Kisah bayi ini cuma salah satu diantara sekian banyak kisah sedih akibat balaa' yang menimpa Kampung Baru Molino.
Kisah selanjutnya dari masyarakat yang menjadi penyintas dari tragedi balaa' di Molino adalah sebagian besar mereka berkumpul dan membuat pemukiman baru di pesisir selatan, yang sekarang bernama Desa Nipa. (Untuk Melihat Sejarah Desa Nipa, Klik di Sini).
Tahun-tahun berlalu, satu demi satu para saksi sejarah meninggal dunia, yang tersisa hanyala cerita dan sisa-sisa bangunan di Molino yang menjadi bukti bisu bahwa orang tua mereka pernah bermukim di sana. Semua kisah itu suatu saat hanya akan menjadi seperti legenda, padahal kisah itu adalah kisah yang benar-benar nyata. Tetapi satu hal yang masih dirasakan oleh generasi selanjutnya adalah kebingungan atas pertanyaan; apa sebenarnya yang telah terjadi? Orang-orang tua hanyalah berpesan bahwa balaa' dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, jika memang saatnya Tuhan menegur manusia yang semakin serakah secara kolektif, atau memang alam sudah mau membalas tindak tanduk manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengelolanya. Yaa.. pesan yang sangat bijak.
Simak Lagu Orang Nipa Yang Biasa Dinyanyikan Untuk Mengenang Kampung Molino
Versi Piano Klik disini
Lirik Klik disini
Sebagai warga milenial yang penasaran, Thinker-JQX telah melakukan banyak wawancara dengan para orang-orang tua di Desa Nipa sejak tahun 1990-an untuk memastikan keakuratan informasi tahun kejadian, dan disimpulkan waktu tepatnya kejadian balaa' ini adalah sekitar bulan Desember 1918. Setelah membaca banyak buku-buku sejarah untuk membandingkan berbagai informasi yang relevan, maka Thinker_JQX menyimpulkan bahwa PENYEBAB BALAA' DI KAMPUNG BARU MOLINO ADALAH VIRUS H1N1. Orang Belanda di Indonesia menyebutnya Penyakit Aneh, Penyakit Rahasia, dll. Orang Eropa menyebutnya Flu Spanyol, sementara orang Spanyol sendiri menyebutnya Flu Francis.
Menurut pemerintah Hindia Belanda, gejala Flu Spanyol layaknya flu biasa. Penderita merasakan pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal. Dalam beberapa hari, otot terasa sakit dan disusul demam tinggi. Gejala umum lainnya, mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga ke paru-paru. Dalam banyak kasus, gejala itu berkembang menjadi pneumonia. Bila penderita sudah sampai pada tahapan ini, kecil kemungkinan bisa bertahan.
Dalam keluarga-keluarga terdapat satu, dua, bahkan lebih mayat yang membuat seluruh warga desa semakin jatuh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada yang kehilangan bayi, ada yang kehilangan ayah, ada yang kehilangan ibu, ada yang kehilangan isteri dan anak sekaligus, ada yang kehilangan suami dan anak sekaligus, ada yang kehilangan ayah dan ibu sekaligus, kakek, nenek, dan seterusnya dan seterusnya... Yaa... ini balaa'. Warga desa molino mengatakan inilah balaa'.
Dalam cerita turun-temurun digambarkan bahwa saat itu mereka benar-benar berkabung, mereka benar-benar panik, dan bingung tidak tau lagi harus berbuat apa untuk bisa mengurus pemakaman jenazah anggota keluarganya, atau untuk menyelamatkan yang sedang sakit agar bisa sembuh. Suasana desa di pinggiran hutan itu hari ke hari semakin mencekam dan hanya terdengar isak tangis dimana-mana sepanjang siang dan malam.
Dengan segala keterbatasan pada waktu itu, dengan berbagai kebingungan yang melanda benak mereka saat itu, mereka yang tersisa atau yang masih sehat ataupun yang sakit tapi masih kuat, memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu. Hal ini harus dilakukan karena diyakini bahwa satu-satunya cara terlepas dari balaa' yang sedang melanda kampung tersebut adalah keluar dari kampung itu. Selanjutnya, mereka benar-benar mengosongkan kampung Molino. Mereka pergi meninggalkan rumah masing-masing begitu saja. Umumnya rumah masyarakat waktu itu bermodel rumah panggung, jadi mayat-mayat yang tidak sempat lagi dimakamkan hanya dibiarkan di dalam rumah, kemudian tangga untuk akses kedalam rumah itu dilepas dengan harapan agar tidak ada binatang pemakan bangkai yang masuk atau naik ke rumah dan memakan jenazah yang ditinggal didalamnya. Begitulah mereka dengan terpaksa pergi sambil membawa kisah pilu masing-masing. Diantara begitu banyak kisah pilu dari masing-masing keluarga, pernah dituturkan satu cerita dimana orang-orang mendengar isak tangis bayi dari sebuah rumah sesaat sebelum mereka akan meninggalkan kampung itu. Setelah orang masuk ke dalam rumah tersebut, ditemukan seorang bayi laki-laki sedang menyusu pada mayat ibunya. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Kemudian bayi kuat itu diambil oleh kerabat, selanjutnya bayi itu benar-benar selamat dari tragedi balaa', dan kemudian bisa melanjutkan keturunannya. Kisah bayi ini cuma salah satu diantara sekian banyak kisah sedih akibat balaa' yang menimpa Kampung Baru Molino.
Kisah selanjutnya dari masyarakat yang menjadi penyintas dari tragedi balaa' di Molino adalah sebagian besar mereka berkumpul dan membuat pemukiman baru di pesisir selatan, yang sekarang bernama Desa Nipa. (Untuk Melihat Sejarah Desa Nipa, Klik di Sini).
Tahun-tahun berlalu, satu demi satu para saksi sejarah meninggal dunia, yang tersisa hanyala cerita dan sisa-sisa bangunan di Molino yang menjadi bukti bisu bahwa orang tua mereka pernah bermukim di sana. Semua kisah itu suatu saat hanya akan menjadi seperti legenda, padahal kisah itu adalah kisah yang benar-benar nyata. Tetapi satu hal yang masih dirasakan oleh generasi selanjutnya adalah kebingungan atas pertanyaan; apa sebenarnya yang telah terjadi? Orang-orang tua hanyalah berpesan bahwa balaa' dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, jika memang saatnya Tuhan menegur manusia yang semakin serakah secara kolektif, atau memang alam sudah mau membalas tindak tanduk manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengelolanya. Yaa.. pesan yang sangat bijak.
Simak Lagu Orang Nipa Yang Biasa Dinyanyikan Untuk Mengenang Kampung Molino
Versi Piano Klik disini
Lirik Klik disini
Sebagai warga milenial yang penasaran, Thinker-JQX telah melakukan banyak wawancara dengan para orang-orang tua di Desa Nipa sejak tahun 1990-an untuk memastikan keakuratan informasi tahun kejadian, dan disimpulkan waktu tepatnya kejadian balaa' ini adalah sekitar bulan Desember 1918. Setelah membaca banyak buku-buku sejarah untuk membandingkan berbagai informasi yang relevan, maka Thinker_JQX menyimpulkan bahwa PENYEBAB BALAA' DI KAMPUNG BARU MOLINO ADALAH VIRUS H1N1. Orang Belanda di Indonesia menyebutnya Penyakit Aneh, Penyakit Rahasia, dll. Orang Eropa menyebutnya Flu Spanyol, sementara orang Spanyol sendiri menyebutnya Flu Francis.
Menurut pemerintah Hindia Belanda, gejala Flu Spanyol layaknya flu biasa. Penderita merasakan pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal. Dalam beberapa hari, otot terasa sakit dan disusul demam tinggi. Gejala umum lainnya, mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga ke paru-paru. Dalam banyak kasus, gejala itu berkembang menjadi pneumonia. Bila penderita sudah sampai pada tahapan ini, kecil kemungkinan bisa bertahan.